ASA
Denting waktu tak henti kala alam naungan seorang perempuan dengan hebat menjerumus dalam deru benak. Menelusuri untaian-untaian terbelit tak kunjung terurai selagi menghadiri kesunyian nyata dalam gema semu yang kerap melahap entah kekekalan jasmani maupun rohani pemilik pikiran. Dilema besar yang memeluk erat.
Mengutuk atas ketidakberpihakan waktu padanya untuk memproses bagaimana dunia serta dirinya tersendiri dapat berjalan dengan ketentuan moral, realitas kehidupan, serta dorongan gairah akan keingintahuan terhadap sesuatu yang membuat manusia adalahmanusia tak pernah gagal membuatnya kewalahan. Betapa menjengkelkan menyaksikan waktu yang tengah menjulurkan lidah pada seorang yang terbakar oleh ironi tidak memiliki kecukupan untuk memperjuangkan kehidupan atas dirinya yang tersesat dan hilang dalam kikirnya waktu dengan kesadaran atas banyak yang perlu dilakukan serta diselesaikan.
"Aku ingin bernyanyi dan berpuisi melantunkan kata dalam sajak, menari mengikuti alunan musik yang berdendang, melukis dan menulis seakan aku sedang jatuh cinta, membaca menyusuri diksi pada buku-buku, melukis seraya tanganku dirasuki gairah menggebu."
Namun kesadaran tentang tidak semua ia dapat lakukan membenamkan bibit pedih yang bertunas derita. "Aku tak punya banyak waktu"
Dilema kehidupan transisi muda dewasa yang dirasa cukup memelintir keseharian seorang mahasiswi yang enggannya menghadapi dunia dewasa yang ia rasa bukanlah bakatnya. Kerap menjalani tiap detik, menit, jam, serta hari dengan kesadaran lebih umurnya akan semakin bertambah tiap apapun waktunya, dan betapa merasa hinanya ia mengetahui bahwa ia masih ada di dunia kala umur 22—umur yang tidak pernah disangka akan ia pijak.
"Waktuku memang tidak banyak, tak sepanjang masa di dunia. Tapi apa itu akan menjadi alasan bagiku untuk berhenti menyusuri dunia yang tanpa ujung ini? Aku harap tidak, karena seni itulah alasan kita tetap hidup."
Ia pun kembali membangun dirinya. Berawal dari perkenalan canggung merekah menjadi keberanian dalam cengkrama, dari kesungkanan untuk mendapatkan bantuan menjadi timbulnya kesadaran bahwa beberapa hal tidak bisa dilakukan sendiri. Terlebih kala menyadari bahwa lingkungan sekitar tak hanya dirinya, yakni manusia dengan beragam umur serta passion-nya masing-masing, yang membuatnya benar-benar merasa hidup.
Ia tak lagi takut akan terenggutnya waktu, melihat banyaknya orang yang telah berumur tak juga berhenti menyukai apa yang mereka sukai. Karena hal tersebutlah yang terus membuat mereka 'menyala' terang benderang.
Ini tidak hanya mengenai seorang perempuan yang kehilangan makna dunia. Ia tak sekadar menemukan kehidupan, tapi kembali menemukan dirinya.
Mungkin selama ini bukanlah dunia yang butuh bantuan, melainkan aku. Aku tidak tau guncangan apa lagi yang akan dunia beri padaku, tapi aku akan bersiap dengan semua pengalaman ini.